Mengenal
tumbuhan lumut
Judul
buku : Seri keanekaragaman tumbuhan lumut
jilid 1 untuk pelajar
Penulis : Arif Kurniawan
Penerbit : Pustaka insan madani
Cetakan
: I
Tahun
terbit : 2008
Jumlah
halaman : vii + 95 halaman
Arif
Kurniawan, beliaulah penulis buku tumbuhan lumut jilid satu ini. Beliau
menjelaskan bahwa tumbuhan lumut merupakan tumbuhan yang biasanya sulit dibedakan
oleh orang-orang banyak jika dibandingkan dengan tumbuhan paku seperti yang
disajikan dalam bentuk gambar pada buku ini, yang nyaris saja membuat para
pembaca akan menjadi bingung jika melihat gambar pada buku karangan Arif
Kurniawan tersebut.
Ketika
kita membaca buku tersebut, kita bisa mengenal isi buku dengan cara melihat
judulnya saja pada setiap babnya sehingga kita dapat membayangkan pada setiap
ulasan perjudulannya. Misalnya saja pada bab pertama berisikan sub judul
pembahasan apakah lumut itu ?. Kata-kata yang tertuang pada judul tersebut,
seakan-akan menjadi titik awal pertanyaan yang ada dalam benak pembaca.
Terlebih lagi jika kita membaca materinya secara terperinci pada setiap point
to the pointnya. Saat membaca bab pertama, saya bisa mengutip sedikit dari pada
pembahasannya yakni “lumut merupakan tumbuhan yang habitatnya didarat, yang
lembab atau basah. Serta hidup dengan melekat (epifit) dan ada pula yang
epifil.
Dalam
pengklasifikasian dan reproduksi lumut, Arif Kurniawan menjelaskan secara
detail tentang sekema reproduksi lumut bahkan beliau menampil beberapa gambar
yang memang sangat berkaitan dengan skema atau susunan reproduksi lumut itu
sendiri. Pada tampilan gambar reproduksi lumut itu sendiri yang disajikan masih
terlihat kurang jelas, yang dapat membuat para pembaca akan sedikit kebingungan
dimana tampilannya masih terlihat sangat jelas titik-titik penyusun gambar
komputer.
“Lumut
mengalami metagenesis, yaitu suatu pergiliran keturunan antara fase sporofit
dan gametofit. Sedangkan sporofit merupakan keturunan generatif, berupa badan
penghasil spora yang disebut sporgonium. Sporofit ini tumbuh pada gametofit dan
mendapat makanan darinya. Diujung sporofit terdapat pembesaran yakni sporangium
(kotak spora) fase gametofit lebih dominan”. Beberapa kalimat tersebut
merupakan kutipan dari pada bab dua dari buku tumbuhan lumut jilid satu ini.
Saat
kami mengoreksi bab ketiga yang berjudul “spesies lumut di sekitar Kita”, Kami
menemukan banyak sekali kata-kata yang sangat membantu dan memberikan ilmu
pengetahuan akan nama-nama ilmiah pada aneka spesies tumbuhan lumut yang
tergolong asing untuk kita dengar dalam kehidupan sehari-hari alias kata-kata
baru dalam menyampaikan kandungan yang dimaksud untuk mencapai suatu tujuan
dalam bab tersebut.
Hutan
lumut dan lumut epifit merupakan suatu kata-kata yang sangat jarang kita dengar.
Ternyata dua maksud rangakaian kata tersebut sangat sulit dipisahkan dalam
kehidupan sehari-hari. Mengapa tidak, lumut melakukan aktivitas dengan
mengandalakan bantuan dari tempat berpijak. Begitulah simpulan yang dapat kami
tarik dari pada pembahasan bab keempat tersebut yang dipaparkan secara panjang
lebar oleh Arif Kurniawan.
Dibagian
bab terakhir, kami menemukan judul bab berkaitan dengan mengoleksi lumut. Dalam
pandangan kami, lumut selalu dianggap sebagai suatu tumbuhan yang mengganggu
aktivitas manusia. Padahal dalam penyajian terakhir dari bab tersebut, lumut
sebenarnya dapat dikoleksi baik berupa herbarium basah maupun herbarium kering.
Arif kurniawan menjelaskan pula bahwa lumut yang dikoleksi terdiri atas tiga
kelompok lumut yang paling penting pada sebuah taman lumut Ginkakuji temple,
diantaranya VIP mosses lalu disusul Normal inhabitants dan yang terakhir The
interrupter mosses.
Untuk
mengoleksi sebuah lumut, kita harus memiliki atau mengambil sampel yang akan
dikoleksi sehingga kita dapat membuat sebuah penelitian dan pameran yang
berkaitan dengan lumut. Dalam penyajian materi sebelumnya, penulis terlalu
banyak menjelaskan detail-detail yang tidak perlu seperti cara penulisan
taksonomi tumbuhan atau pemberian nama ilmiahnya. Menurut Kami, penuliasn
tersebut sebaiknya dijadikan catatan kecil saja pada bagian-bagian tertentu buku
agar materi yang akan dibahas searah terhadap pengenalan tumbuhan lumut dan
tidak melencing dari pada materinya seperti pada bab dua.
Lalu
pada halaman tiga puluh sembilan, Kami menemukan dua buah kata yang tidak dispasi
seperti “terdiri atas 1 lapissel” yang mestinya “terdiri atas 1 lapis sel”.
Dari kekurangan tersebut sebenarnya bukanlah menjadi masalah besar tetapi jika
akan dilakukan penerbitan kembali, kami berharap agar kata-kata yang salah
tersebut dapat diperbaiki menjadi ejaan yang disempurnakan (EYD).
Pada
halaman empat puluh enam terdapat sebuah renungan yang jika dikaitkan dengan
materi awal sebenarnya kurang efektif. Namun hal tersebut membuat kami menjadi
ragu akan penetapan hasil koreksi kami, yang akan menjuluki tulisan tersebut
layak untuk dijadikan sebagai keunggulan terhadap pencitraan buku.
Tak
sekedar itu, Arif Kurniawan juga menjelaskan bahwa orang-orang yang mempelajari
hingga menamatkan sarjananya untuk lumut di Indonesia sangat-sangat sedikit, bahkan
dapat dihitung dengan jari tangan kita. Ada satu kelebihan yang terdapat dalam
buku ini yang memang sengaja untuk ditulis yakni dapat menjadi suatu kajian
atau literatur dalam pembelajaran, khususnya para pelajar.
Tentunya
kami berharap, semoga dengan adanya buku ini, dapat membantu siswa atau pelajar
lainnya, untuk mengenal secara luas lumut itu sendiri, dan kami berharap semoga
ditahun yang akan datang, buku ini dapat diterbitkan kembali dengan suatu gaya
tulisan yang benar-benar lugas dan terlepas dari kesalahan kecil tersebut, dan
Kami menantikan karya terbaru dari beliau guna menjadi kita pelajar yang lebih
mengenal dan menyukai tumbuhan lumut.