Sabtu, 03 Desember 2011

DRAMA : Masyarakat desa pedalaman

MASYARAKAT DESA PEDALAMAN
Disuatu desa tinggallah masyarakat desa yang miskin dan tidak miskin, serta masyarakat yang hidup dengan pas-pasan. Nama desa tersebut adalah Desa Wonoringi, masyarakat desa biasanya menjalani kehidupan mereka dengan akur terkadang masyarakat desa tersebut saling menyindir dan bergosip satu sama lain.
            Pada suatu hari tampak seorang ibu sedang mengantri untuk membayar listrik.
Fani          :          “oh Ivan berapa mhe listrik yang saya mau bayar ini bulan ?” (sambil menggendong anaknya).
Ivan          :          “Ini bulan yang mau dibayar delapan ribu Sembilan ratus lima puluh rupiah” (sambil melihat data yang ada dikomputer).
Fani          :          “Tina kasih cukupkan dulu uangku untuk bayar listrik, soalnya uangku Cuma lima ribu rupiah jhe, terus kamu tambah-tambahkan lagi biayanya listrikku nah. Kan  kamu sudah tau mhe saya ini orang miskin kasih cukupkan itu kasihan” (dengan suara mengeluh dan nada ketus).
Nurtina    :           “Kenapa kamu minta kasih cukupkan uangmu bayar listrik sama saya, sementara kamu yang pakai listrik, kenapa kamu suruh saya kasih cukupkan uang mu ? kalau dia marah bosku. trus ini loket juga bosku orang cina yang punya nanti apa mhe yang saya stor sama bosku? ” (dengan suara yang marah dan cepat).
Ivan           :         “Kalian ini bertengkar terus saja, tidak mau mhe berhenti kayak tikus dengan kucing, kamu bayar mhe itu uang listrikmu trus kamu pulang dirumahmu”.
Fani           :         “kamu juga biar sembilan ratus lima puluhnya kamu hitung juga” (menatap ivan).
Fadila        :         “Assalamu alaikum ada apa ini ibu-ibu bapak ?”
Fani, Nurtina dan Ivan Serentak menjawab salam dari ibu Fadila yang alim dan fani meneruskan omelannya.
Fani          :      “begini ibu haji mereka berdua kasi mahal listrik yang saya mau bayar”.
Nurtina    :       “Eeeehhh bisanya kamu bilang begitu. sementara tadi kamu yang suruh saya kasih cukupkan uangmu untuk bayar listrik  tadi, sekarang kamu fitnah lagi saya”
Fani          :      “Iiiiiihhh ngerinya dirimu. kamu tuduh saya fitnah dirimu sementara kamu yang fitnah diriku”.
Ivan          :      “Woooiii” (sambil memukul meja dan berkata) “kalian diam mhe, hanya marah-marah saja yang kalian urus dari tadi”.
Fani dan nurtina membalas gertaan dari Ivan dan berkata secara serentak “wei ko diam mhe kamu ko jadi laki-laki terlalu banyak urusanmu”
Fadila        :     “astagfirulalhaziiimmm. Kalian semua ini dari tadi hanya bertengkar terus tidak mau mengalah” (sambil mengheluskan dadanya sendiri).
Ivan          :      “Hmmmm tobat kalian di ceramai sama ustadzah”
Fadila       :      “kamu juga diam. mestinya kalian ini harus saling akur satu sama lain, bukan saling bertengkar, karena tidak ada yang mau mengalah akhirnya timbulah sebuah fitnah. Memfitnah satu samalain itu dosa besar lebih baik kalian semua saling maafan”.
Nurtina dan fani pun saling memaafkan dan berjabat tangan berkata “tin maafkan saya nah”. (lalu menyambung perkataanya di telinga “ kalau bukan uztadzah yang suruh saya, saya tidak mau minta maaf ” Tina pun juga membalas “iya saya juga”. Dan di sambung dengan bisikan “Biar lagi kamu minta maaf sama saya, diriku juga tidak mau maafkan kamu sampai lebaran tahun depan”.
Fadila         :    “Kalau begitu kan lebih baik, jadi tidak ada yang saling selisih pahamkan”.
Ivan            :    “betul-betul” !!!
Fadila         :    “Ohh ya kalau begitu saya juga mau bayar listrik. Eh brapa mhe listrik yang saya mau bayar ?“.
Ivan            :   “tunggu dulu bu, saya lihatkan dulu pembayarannya mamanya niki”
Tiba-tiba datang penjual pisang goreng
Rahimi        :    “Piissaaaaang Goorreeeng, Panaaaadaaa” (berteriak)
Nurtina       :     “Pisang goreng, sini ko”
Rahimi        :    “Iye, tunggu mhe saya ke situ !”
Pada saat fani sedang membayar listrik tiba-tiba terjadi lagi masalah.
Fani            :    “Ivan ini uangku lunas mhe toh ?”
Ivan            :    “iya bos”
Ketika Fani membalikkan badannya ke hadapan penjual pisang goreng lalu Rahimi terhenti langkahnya dan menatap muka fani. Fani pun menatap muka rahimi !”
Rahimi     :   “Eeeh mamanya niki ko bayar itu utangmu, ko makan panadaku ko tidak mau bayar alasanmu hanya tidak ada uangmu !”.
Fani       :      (muka pucat) “Astaga utang yang mana ?”
Rahimi  :      jangan ko menyangkal, memang kau, ko berlebihan masekemu (Mendekati fani)”
Fani pun berlari namun langkahnya terhenti karena dai menabrak penjual ikan kemudian penjual ikan itu marah karena semua ikannya terjatuh.
Nurtina    :      “Hmmm tobat, itu mhe karmanya orang yang terlalu maseke”
Ivan         :      “hahahahahah canti-cantik tapi tidak ada uangnya pale”
Fadila      :      “Astagfirulalhazim, kalian itu mestinya tidak menghinanya dalam kesusahan”
Adenai    :      “Kau ini !!! ko jalan kotidak liat-liat. Akhirnya begini mhe jadinya. Aaagghhh ko ganti ini ikan ku”
Fani         :      “bisanya itu, kamu yang jalan tidak liat-liat, sa siku stengah ko itu”
Fadila mendekati fani dan hendak mengendog niki.
Fadila     :       “sini niki, nanti saya yang jaga anakmu. Kamu selesaikan dulu masalahmu !”.
Fani pun memberikan niki kepada fadila. Pertengkaran adu mulut pun semakin memanas antara fani, adenai dan rahimi. Sementara yang lain menghibur anaknya fani. Tiba-tiba datanglah seorang polisi.
Risko     :       “ada apa ini ???”
Rahimi   :      “ada pisang goreng, tahu isi sama panada !”
Adenai   :      “ini lagi tidak nyambung, sembarang da bicara, makanya telingah dipasang !”
Fani        :      “ih polisi mati saya pwa “ (suara pelan)
Risko     :       “ada apakah sebenarnya ini ? masalah apa yang kalian bahas sampai-sampai ribut sekali?”
Adenai    :      “begini pak, ini orang da tabrak saya tadi, akhirnya da jatuh mhe semuanya ikanku !”
Rahimi   :     “trus pak da tidak mau bayar utangnya !!!”
Fani       :      “bisanya itu, sementara kamu yang tabrak saya “ (menunjuk adenai) “kamu juga sembarang ko tuduh saya biar bukan saya yang makan tapi niki”
Risko        :     “semuanya tenang dulu pak ibu”
Adenai      :     “pokoknya kamu harus ganti ini ikanku titik”
Rahimi       :     “ko bayar juga utangmu”
Fani            :      “aahh sa tidsak mau jhe”
Adenai       :      “aahh bicara banyak saja kau “
Risko         :     “kalau begitu kita selesaikan saja di kantor polisi agar semua pihak yang terlibat dalam masalah ini bisa menerima hasil keputusannya”
Fani            :     “pak polisi juga sembaraaaang kayak tidak ada tempat lain“
Rahimi       :      “oowwwww pasti ko takut toh ?”
Fani           :     “bisanya ko bilangi saya taku ? kalau begitu kita pergi baku angkat di kantor polisi !”
Adenai      :    “iyo sini mhe !!!”
Rahimi      :     “eehh sebentar phe saya ikut kalian di kantor polisi nah saya mau menjual dulu ! penjual bale saya titip utangnya mamanya niki nah !!!”
Adenai       :    “oke , yang poko ada flus-flusnya !!!
Rahimi       :    “ohhh flus-flusnya panada saja satu biji !!! oke mhe !!!!
Adenai      :     “terserah mhe !!!
Risko        :     “pak ibu sebentar di urus flus-flusnya, urusan belakang itu !!!
Risko, Adenai dan fani pun kekantor polisi. Tiba-tiba munculah seorang pengemis
Syaiful    :     “bu apa itu ?”
Rahimi     :      “panada, kenapakah ???”
Syaiful     :      “tidak jhe, Cuma liat-liat saja. Eehhh bisakah minta satu panadanya kita, soalnya saya belum makan ini hari !!!”
Rahimi     :    “kaasiiaannn !!! kalau mau makan harus kerja dulu kalau tidak ada uangmu ko pergi cari kerja dulu !!!”
Fadila      :     “bu jangan begitu, kita sebagai orang yang mampu harus memberikan sebagian harta kita kepada kaum fakir miskin atau orang yang tidak mampu seperti orang yang ada di hadapan kita saat ini” !!!.
Rahimi      :      “astagfirulalhazim, untung kita ingatkan saya ibu kalau tidak saya bikin dosa lagi !!!.
Syaiful     :    “hmm dengar itu makanya kalau jadi orang jangan sampai lupa diri.
Nurtina    :     “heeii jangan kamu tambah-tambahi bicaranya orang tua !!!.
Syaiful    :     “iyow jhe !!!. saya hanya keceplosan saja !!!.
Ivan        :      “berapa panadamu satu biji ?
Rahimi     :    “seribu rupiah jhe !!!!!.
Nurtina    :     “bisa ditawar ?
Rahimi    :     “jangan ditawar !!!.
Syaiful     :    “kenapa jangan ditawar ???”
Rahimi     :   “harga pasnya mhe kasian, modalku juga ini karena sedikit jhe untungnya !!!.
Rahimi pun memberikan sebiji panada kepada iphul, dan kehidupan desa tersebut kembali normal. Pada akhirnya Fani pun mengalah kepada polisi karena terbukti bersalah dan suami fani yang baru pulang dari perantauannya di Negeri Jiran selama lima tahun akhirnya kembali dan membayar lunas semua utang-utang fani.





Tidak ada komentar:

Kenapa Pendidikan di Negara Asia Timur dan Singapura Lebih Maju ? Ini Jawaban Jujur AI

Pendidikan: Kebutuhan Primer untuk Masa Depan yang Lebih Baik Pendidikan memiliki banyak manfaat yang sangat mendasar dalam kehidupan manusi...