Tugas Teori Organisasi
PENGARUH DESAIN KERJA TERHADAP KINERJA ORGANISASI
(KAJIAN TEORITIS DAN IMPLEMETASI)
OLEH :
SYAIFUL RAHMAN
B1B1 13180
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah, swt. atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Shalawat dan salam tak lupa penulis panjatkan kepada junjungan nabi besar Muhammad, saw. beserta para keluarga, sahabat dan umatnya yang Insya Allah setia sampai akhir jaman.
Melalui makalah ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada teman-teman yang telah mendukung dan menbantu ketika penulis membutuhkan ide dan cara-cara menemukan sumber. Kepada orang tua, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih setulus hati, sebab merekalah yang telah membiayai dan member dorongan moril dalam setiap menjejaki langkah menuju ilmu pengetahuan. Terima kasih patut penulis hanturkan kepada dosen pembiming mata kuliah teori organisasi yang telah membimbing dengan penuh kesabaran.
Dalam penulisan makalah ini, tentunya tidak terlepas dari kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun guna menutupi kekurangan, penulis butuhkan sebagai pembelajaran.
Kendari, Maret 2014
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Judul ………………………………………………………………….. i
Kata Pengantar …………………………………………………………………. ii
Daftar Isi ……………………………………………………………………….. iii
BAB I Pendahuluan ……………………………………………………………. 1
1.1.Latar Belakang ……………………………………………………... 1
1.2.Rumusan Masalah ………………………………………………….. 2
1.3.Tujuan ……………………………………………………………… 2
1.4.Manfaat …………………………………………………………….. 2
BAB II Pembahasan …………………………………………………………… 3
BAB III Penutup ………………………………………………………………. 9
3.1. Simpulan ……………………………………………………………… 9
3.2. Saran ………………………………………………………………….. 9
Daftar Pustaka …………………………………………………………………. 11
Lampiran ………………………………………………………………………. 13
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar belakang
Indonesia merupakan salah satu Negara yang sangat kaya akan budaya, baik budaya didalam hal kesenian, kerajinan, dan sejarah, tetapi yang tidak pernah terlihat oleh bangsa Indonesia sendiri adalah bahwa masyarakat Indonesia ternyata memiliki budaya kerja yang berbeda setiap individu, hal ini terbukti ketika ada sebuah perusahaan swasta yang lebih memilih membayar tenaga ahli dari luar negeri ( misalkan jepang), padahal untuk segi kapabilitas kemampuan antara tenaga ahli dari Indonesia dan luar negeri sebenarnya tidak jauh beda tetapi kenapa perusahaan swasta ini lebih memilih tenaga kerja asing untuk menempati beberapa posisi tertentu didalam perusahaannya?, ternyata ketika salah satu CEO dari perusahaan swasta ini ditanya pertanyaan seperti diatas, beliau menjawab bahwa untuk setiap posisi tertentu kami lebih memilih pekerja asing dikarenakan budaya kerja dari Negara ini ataupun individu lebih baik dan bertanggung jawab daripada beberapa tenaga kerja di Indonesia walaupun tidak semua.
Deskripsi diatas menunjukan pengaruh dari budaya kerja suatu individu dari Negara tertentu ternyata memiliki pengaruh dalam desain pekerjaan. Individu membentuk cara didalam melakukan pekerjaan mereka untuk membuat pekerjaan mereka lebih berharga (Wrzesniewski & Dutton, 2001). Adanya suatu lintas budaya (Cross Culture) tampaknya memiliki dampak dan pengaruh tertentu pada bagaimana cara orang megkreasikan pekerjaan mereka. Secara umum didalam suatu perusahaan atau organisasi ada sebuah persyaratan dimana kira-kira individu dapat melakukan pekerjaan mereka, hal ini pada gilirannya menentukan apakah desain pekerjaan merupakan hal yang menguntungkan dan atau bermakna. Masyarakat dan budaya yang berbeda memiliki perspektif waktu yang berbeda, atau orientasi, sehubungan dengan penekanan mereka pada masa lalu, sekarang, dan masa depan (Hall & Hall, 1987; Schein, 1992).
Desain pekerjaan telah muncul didalam berbagai perusahaan, organisasi dan Negara. Nilai tingkat budaya nasional yang telah di internalisasi melalui proses sosialisasi dapat berfungsi sebagai suatu criteria apakah suatu desain pekerjaan tertentu memberikan sebuah kesempatan individu untuk mendapatkan harga diri dan kesejahteraan (Erez & Dini, 1993). Menurut Erez (2008), untuk diri sendiri, pekerjaan memiliki pengaruh langsung pada persepsi individu apakah pekerjaan atau desain pekerjaan dapat memfasilitasi atau bahkan menghambat individu didalam mendapatkan sebuah harga diri dan kesejahteraan.
1.2.Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yakni bagaimana pengaruh desain kerja terhadap kinerja organisasi ?
1.3.Tujuan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah memberikan deskripsi pengaruh desain kerja terhadap kinerja organisasi serta sebagai pemenuhan nilai terhadap mata kuliah teori organnisasi.
1.4.Manfaat
Dapat menambah pengetahuan penulis mengenai desain kerja serta pengaruhnya terhadap kinerja organisasi, dapat dijadikan bahan informasi, acuan dan pertimbangan bagi perusahaan dalam melaksanakan kebijakan perusahaan mengenai permasalahan yang dibahas dalam makalah ini. Selain itu, bagi kepentingan akademis/peneliti lainnya dapat dijadikan sebagai dasar dan bahan acuan serta literatur untuk penelitian sejenis lainnya.
BAB II
PEMBAHASAN
Robbins (1996) menyatakan bahwa “organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar relatif, terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan”
Untuk mencapai tujuan itu, Handoko (1992) menyatakan perlunya proses pengorganisasian, dan proses ini tercermin dalam struktur organisasi. Handoko (1992) juga menyatakan, struktur organisasi, mencakup aspek – aspek penting, antara lain: (1) pembagian kerja; (2), departementalisasi; (3), bagan organisasi formal; (4) rantai perintah dan kesatuan perintah; (5) tingkat - tingkat hierarki manajemen; (6) saluran komunikasi; (7) penggunaan komite; dan (8) rentang manajemen dan kelompok - kelompok informal yang tidak dapat dihindarkan.
2.1. Budaya dan Perilaku
Globalisasi pasar dan kompetisi internasional memaksa perusahaan-perusahaan beroperasi di dalam suatu lingkungan multibudaya (multicultural environment). Demikian juga dengan adanya pola-pola migrasi dan media komunikasi transnasional seperti televisi satelit dan internet yang menciptakan populasi multibudaya (multicultural populations) di dalam pasar-pasar domestik dan membuka konsumen-konsumen menuju kebutuhan-kebutuhan dan perilaku-perilaku alternatif.
Perilaku seorang individu merupakan hasil dari sistem nilai (values) yang dimiliki individu tersebut untuk keadaan tertentu. Sistem-sistem nilai budaya individu dikembangkan sepanjang waktu sejalan mereka bersosialisasi dengan grup/kelompok tertentu. Budaya masyarakat/lembaga juga regional subculture dan nilai-nilai keluarga semuanya mempengaruhi pembentukan sistem nilai individu. Karenanya, sistem nilai budaya (cultural value system) memasukkan elemen-elemen budaya yang dimiliki individu individu pada umumnya dengan grup-grup di mana mereka berada, hal ini bisa dipandang sebagai keunikan nilai-nilai idiosyncratic terhadap individu.
Budaya mempengaruhi perilaku melalui manifestasi-manifestasinya, seperti yang diungkapkan oleh Hofstede, yaitu: values, heroes, rituals, dan symbols. Ini semua merupakan bentuk-bentuk di mana secara cultural penetapan knowledge disimpan dan diungkapkan. Karena itu, setiap budaya grup menghadapi manifestasi-manifestasi budaya yang berbeda pula.
2.2.Budaya dan Dimensi Budaya Nasional
Budaya (culture) merupakan keseluruhan pola pemikiran, perasaan dan tindakan dari suatu kelompok sosial, yang membedakan dengan kelompok sosial yang lain. Istilah the collective mental programming atau software of mind digunakan untuk menyebutkan keseluruhan pola dalam kajian budaya. Mental prorams atau budaya suatu kelompok terbentuk oleh lingkungan sosial, (seperti negara, daerah, tempat kerja, sekolah dan rumah tangga) dan kejadian-kejadian yang dialami dalam kehidupan para anggota kelompok yang bersangkutan. Kemudian proses terbentuknya pola fikir, perasaan dan perbuatan tersebut dianalogikan dengan proses penyusunan program dalam komputer.
Budaya dapat dikelompokkan ke dalam berbagai tingkatan antara lain: nasional, daerah, gender, generasi, kelas sosial, organisasional atau perusahaan.
a. Budaya Nasional (National Culture)
Dimensi-dimensi perbedaan budaya dalam penelitian budaya nasional meliputi:
· Power Distance, satu dari ‘dimensi’ budaya nasional yang merefleksikan jarak jawaban yang ditemukan dalam beragam negara ke dalam pertanyaan mendasar tentang bagaimana meng elola fakta bahwa orang-orang dalam keadaan tidak seimbang.
· Collectivism Vs Individualism, Mayoritas orang di dunia yang tinggal dalam suatu komunitas yang memiliki minat pada kelompok melebihi secara individu disebut sebagai kelompok masyarakat collectivist. Sedangkan Minoritas orang di dunia hidup dalam masyarakat di mana minat-minat individu di atas minat kelompok, masyarakat itu disebut sebagai individualist.
· Masculinity/ Feminity, Dalam suatu masyarakat terdiri atas laki-laki dan perempuan. Secara biologis mereka berbeda. Perbedaan biologis menggunakan terminologi male dan female, sedangkan perbedaan sosial dan secara budaya ditentukan oleh peran masculine dan feminine.
· Uncertainty Avoidance, Sebagai manusia kita harus berhadapan dengan fakta bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok; masa yang akan datang tidak pasti tetapi kita harus menghadapinya. Ketidakpastian yang ekstrim menciptakan kegelisahan yang tidak dapat ditolelir.
Didalam teori Hofstede ciri budaya atas dasar dimensi nilai budaya. Keuntungan dari Hofstede adalah bahwa secara khusus ditujukan kerja dari nilai-nilai yang terkait, membuat dimensi nya secara intuitif dipahami dan lebih spesifik. Pada dasarnya pentingnya dimensi Hofstade adalah bahwa dimensi nilai budaya ternyata banyak terbukti memiliki korelasi dengan banyak fenomena social dan bisnis.
2.3. Desain Pekerjaan (Job Design)
Desain pekerjaan (Job Design) adalah struktur, isi, dan konfigurasi tugas pekerjaan dan peran seseorang (Parker & Ohly, 2008). Untuk dapat memiliki pemahaman yang lebih baik mengapa desain pekerjaan selalu memainkan peran sentral dalam sistem kerja, yang terbaik adalah melihat sejarah desain pekerjaan (Grant,A.M. dan Juillerat, 2010).
Pendekatan desain pekerjaan sebenarnya telah diatur sedemikian rupa sehingga secara tidak langsung mempengaruhi karyawan dalam kepuasan dan motivasi kerja. Sekarang, desain pekerjaan telah mengambil perspektif yang lebih luas, dengan berbagai dimensi seperti:
a. Job Enrichment (JE),
b. Job Engginering (JENG),
c. Quality of Worklife (QWL),
d. Socio Technical Design
e. Social Information Processing Approaches
Ada banyak upaya diarahkan untuk konsep dan mengukur struktur desain pekerjaan. Hal tersebut diketahui jika pekerjaan dirancang dengan baik, kepuasan kerja dan kualitas kinerja akan meningkat. Desain pekerjaan dapat dibawa ke perspektif yang lebih luas. Ada berbagai pendekatan yang memungkinkan organisasi untuk merancang pekerjaan bagi para karyawannya.
Pendekatan motivasi untuk desain pekerjaan, berbagai tugas, identitas tugas, signifikansi tugas, otonomi dan umpan balik semua memiliki efek positif terhadap proses desain pekerjaan dalam menciptakan efisiensi dan efektifitas didalam kerja.
2.4.Pendekatan Budaya (Culture) dalam Desain Pekerjaan (Job Desaign)
Pada dasarnya dengan melihat teori Natioanl Culture yang diungkapkan oleh Hofstade dapat diketahui tentang pendekatan dan hubungan antara desain pekerjaan (Job Design) dengan budaya (Culture).
Didalam penulisan artikel ini sebenarnya adalah untuk mencari sebuah gagasan dari suatu model karakteristik pekerjaan yang diikuti dengan pendekatan dari desain pekerjaan yang dipengaruhi oleh budaya nasional (National Culture) dimana hal tersebut sudah tertanam pada perusahaan atau organisasi. Pada dasarnya dan dari beberapa contoh nyata yang ada di Negara Indonesia sebenarnya dapat dilihat bahwa ada pengaruh terhadap karakteristik pekerjaan yang disebabkan oleh adanya factor budaya.
Dari pengamatan dan hasil dari eksplorasi literatur, dapat ditarik sebuah benang merah bahwa desain pekerjaan sebenarnya berhubungan dan dipengaruhi oleh budaya, tetapi didalam konteks Negara Indonesia penulis melihat bahwa factor budaya berpengaruh sebagai moderator atau penengah didalam melakukan desain pekerjaan. Power Distance, Individualisme, kolektivisme dan Uncetainty Avoidance merupakan dimensi yang memiliki efek yang kuat terhadap penerapan pendekatan desain pekerjaan. Power Distance sebenarnya berkaitan dengan otonomi pekerjaan dalam suatu perusahaan atau organisasi. di sisi lain, otonomi dan pemberdayaan juga kongruen dengan nilai-nilai individualistis, menekankan kebebasan memilih dan memberikan kesempatan untuk mempengaruhi dan merupakan atribut dari hasil perilaku untuk individu.
Banyak pendapat dari beberapa ahli dan beberapa penelitian yang mengungkapkan bahwa otonomi kerja dapat mengakibatkan efek yang berbeda pada kepuasan dan kinerja di setiap kebudayaan. Tingkat individualisme dan kolektivisme juga memiliki korelasi yang kuat dalam otonomi dan umpan balik.
Beberapa peneliti berpendapat bahwa otonomi adalah kebutuhan psikologis yang universal dan lintas budaya yang dapat dibedakan dari individualisme dan collectivism. Otonomi melibatkan pilihan, sedangkan individualisme dan collectivism melibatkan suatu pemisahan dari orang lain (Chirkov, Ryan, Kim, & 2003). Peneliti lain juga berpendapat bahwa, otonomi masih lebih penting dalam individualistis daripada budaya kolektif (Chua & Iyengar, 2006). Budaya dengan tingkat kolektivisme tinggi cenderung lebih terbuka terhadap umpan balik dan menerima budaya dari tingkat individualisme yang tinggi.
Uncertainty Avoidance merupakan dimensi lain dari budaya yang berkorelasi dengan umpan balik. Di Asia, seperti Indonesia dan Jepang, mendapatkan feedback dari manager dikatakan sangat langka, sedangkan dinegara barat feedback sering dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting dan berharga untuk meningkatkan kinerja karyawan. Berdasarkan dari penjelasan di atas, dapat dilihat bahwa budaya itu sendiri menciptakan suatu pendekatan desain pekerjaan (Job Desaign )yang sesuai dengan nilai-nilai mereka sebagai contoh Amerika menciptakan Job Enrichment, di Eropa dikenal dengan Job Desaign Socio Technological Design, dan Asia terutama Indonesia lebih dengan Quality Circle.
BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Desain pekerjaan (Job Design) merupakan sebuah topic yang hangat ketika hal tersebut dibahas di Negara Indonesia dimana jika dikaitkan dengan National Culture. Perusahaan ataupun organisasi telah menggunakan pendekatan yang berbeda didalam desain pekerjaan (Job Design), tergantung pada bagaimana pekerja menyelesaikan pekerjaan mereka, pentingnya tugas mereka, bagaimana ini mempengaruhi kemampuan untuk melakukan pekerjaan mereka, bagaimana menginformasikan mereka tentang kemajuan dan berapa banyak kebebasan dan kontrol yang diberikan terhadap mereka untuk melakukan pekerjaan mereka (otonomi), hal itu semua sebenarnya sudah terangku didalam budaya disetiap perusahaan atau organisasi di suatu Negara tertentu baik Asia, Eropa, Amerika ataupun Afrika.
Budaya memiliki pengaruh didalam menentukan pendekatan terhadap desain pekerjaan (Job Desaign) dalam hal nilai-nilai umum dan keyakinan. Dan dengan dukungan dari Hofstede, hal tersebut dapat menghasilkan karakteristik suatu pekerjaan untuk budaya tertentu. Bila pendekatan dan karakteristik yang ditentukan jelas, maka akan menghasilkan semacam cetak biru dari sebuah pekerjaan tertentu didalam budaya tertentu. desain pekerjaan memang ditentukan oleh budaya. Itu tidak hanya memberikan pemahaman yang lebih baik dari apa yang disukai dalam budaya tertentu, tetapi dengan dukungan dari Hofstede, hal tersebut bisa membuat garis besar yang dapat digunakan sebagai landasan atau kerangka dasar untuk menciptakan pekerjaan tertentu.
3.2.Saran
Banyaknya teori dan pendekatan dari desain pekerjaan (Job Design) kadang-kadang membingungkan. Selain itu, nilai-nilai dari dimensi suatu budaya sangat bervariasi. Dalam globalisasi saat ini, lingkungan telah berubah secara signifikan, siapapun individu yang ingin menerapkan salah satu pendekatan terhadap desain pekerjaan, disarankan ketika merancang suatu pekerjaan, dan didalam mengambil suatu budaya harus sangat diperhitungkan dan tidak berfikir secara global karena penggunaan budaya dan desain pekerjaan (Job Desaign) dapat menentukan karakteristik dari pekerjaan yang dapat secara intuitif diterima oleh masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Chirkov, V., Ryan, R. M., Kim, Y., & Kaplan, U. (2003). Differentiating autonomy from individualism and independence: A self-determination theory perspective on internalization of cultural orientations and wellbeing. Journal of Personality & Social Psychology, 84, 97–109.
Chua, R. Y.-J.,&Iyengar, S. S. (2006). Empowerment through choice? A critical analysis of the effects of choice inorganizations. In B. Staw, & R. M. Kramer (Eds.), Research in organizational behavior (Vol. 27, pp. 41–79).Greenwich, CT: Elsevier.
Erez, M. (2010). (Commentary) culture and job design. Journal of Organization Behavior, 31, 389-400.
Grant, A. M., Fried, Y., & **Juillerat, T. 2010. Work matters: Job design in classic and contemporary perspectives. Forthcoming in S. Zedeck (Ed.), APA handbook of industrial and organizational psychology. Washington, DC: American Psychological Association.,
Hall, E. T., & Hall, M. R. (1987). Understanding cultural differences. Yarmouth, ME: Intercultural Press.
Hofstede, G. (2001). Culture’s sequences: Comparing values, institutions, and organizations across nations. Thousand Oaks, CA: Sage.
Luna, D. dan Gupta, S.F. (2001). An integrative framework for cross-cultural consumer behavior. International Marketing Review, Vol. 18, No. 1, pp. 45-69.
Parker, S. K., & Ohly, S. (2008). Designing motivating jobs. In R. Kanfer, G. Chen, & R. Pritchard (Eds.), Work motivation: Past, present, and future (pp. 233–284).
Wrzesniewski, A., & Dutton, J. E. (2001). Crafting a job: Revisioning employees as active crafters of their work. Academy of Management Review, 26, 179-201.
