Sabtu, 03 Desember 2011

ceramah agama ibuku sayang "surat dari bunda"

Kepada yg tercinta, bundaku yg kusayang
Segala puji bagi Allah… yg telah memuliakan kedudukan kedua orang tua, dan telah menjadikan mereka berdua sebagai pintu tengah menuju surga.
Shalawat serta salam hamba -yg lemah ini- panjatkan keharibaan Nabi yg mulia, keluarga serta para sahabatnya hingga hari kiamat. Amin…
Ibu…
Aku terima suratmu yg engkau tulis dg tetesan air mata dan duka… aku telah membaca semuanya… tidak ada satu huruf pun yg aku sisakan.
Tapi tahukah engkau, wahai Ibu… bahwa aku membacanya semenjak shalat Isya’… Semenjak sholat isya’… aku duduk di pintu kamar, aku buka surat yg engkau tuliskan untukku… dan aku baru selesaikan membacanya setelah ayam berkokok… setelah fajar terbit dan adzan pertama telah dikumandangkan…
Sebenarnya, surat yg engkau tulis tersebut, jika ditaruhkan di atas batu, tentu ia akan pecah… Jika engkau letakkan di atas daun yg hijau, tentu dia akan kering…
Sebenarnya, surat yg engkau tulis tersebut tidak akan tertelan oleh ayam… Sebenarnya, wahai ibu, suratmu itu bagiku bagaikan petir kemurkaan, yg jika dipecutkan ke pohon yg besar, dia akan rebah dan terbakar…
Suratmu wahai ibu, bagaikan awan Kaum Tsamud, yg datang berarak dan telah siap dimuntahkan kepadaku…
Ibu…
Aku telah baca suratmu, sedangkan air mataku tidak pernah berhenti!! Bagaimana tidak… Jika surat itu ditulis oleh seorang yg bukan ibu dan bukan ditujukan pula kepadaku, layaklah orang yg paling bebal, untuk menangis sejadi-jadinya… Bagaimana kiranya, jika yg menulis itu adalah ibuku sendiri… dan surat itu ditujukan untukku sendiri…
Sungguh aku sering membaca kisah sedih, tidak terasa bantal yg dijadikan tempat bersandar telah basah karena air mata… Bagaimana pula dg surat yg ibu tulis itu!? bukan cerita yg ibu karang, atau sebuah drama yg ibu perankan, akan tetapi dia adalah kenyataan hidup yg ibu rasakan.
Ibuku yg kusayangi…
Sungguh berat cobaanmu… sungguh malang penderitaanmu… semua yg engkau telah sebutkan benar adanya…
Aku masih ingat ketika engkau ditinggalkan ayah pada masa engkau hamil tua mengandung adikku. Ayah pergi entah kemana tanpa meninggalkan uang belanja, jadilah engkau mencari apa yg dapat dimasak di sekitar rumah dari dedaunan dan tumbuhan.
Dg jalan berat engkau melangkah ke kedai untuk membeli ala kadarnya, sambil engkau membisikkan kepada penjual bahwa apa yg engkau ambil tersebut adalah hutang… hutang… yg engkau sendiri tidak tahu, kapan engkau akan dapat melunasinya…
Ibu…
Aku masih ingat ketika kami anak-anakmu menangis untuk dibuatkan makanan, engkau tiba-tiba menggapai atap dapur untuk mengambil kerak nasi yg telah lama engkau jemur dan keringkan…
Tidak jarang pula engkau simpan untukku sepulang sekolah tumbung kelapa, hanya untuk melihat aku mengambilnya dg segera.
Aku masih ingat… engkau sengaja ambilkan air didih dari nasi yg sedang dimasak, ketika engkau temukan aku dalam keadaan sakit demam.
Ibu…
maafkanlah anakmu ini… aku tahu bahwa semenjak engkau gadis, sebagaimana yg diceritakan oleh nenek sampai engkau telah tua seperti sekarang ini, engkau belum pernah mengecap kebahagiaan.
Duniamu hanya rumah serta halamannya, kehidupanmu hanya dg anak-anakmu… Belum pernah aku melihat engkau tertawa bahagia, kecuali ketika kami anak-anakmu datang ziarah kepadamu. Selain dari itu, tidak ada kebahagiaan… Semua hidupmu adalah perjuangan. Semua hari-harimu adalah pengorbanan
Ibu…
Maafkan anakmu ini! Semenjak engkau pilihkan untukku seorang istri, wanita yg telah engkau puji sifat dan akhlaknya… yg engkau telah sanjung pula suku dan negerinya! Semenjak itu pula aku seakan-akan lupa deganmu…
Wahai ibu…
Keberadaan dia sebagai istriku telah membuatku lupa posisi engkau sebagai ibuku… senyuman dan sapaannya telah melupakanku dg himbauanmu.
Ibu… aku tidak menyalahkan wanita pilihanmu tersebut, karena kewajibannya untuk menunaikan tanggung-jawabnya sebagai istri… Aku berharap pada permasalahan ini, engkau tidak membawa-bawa namanya, dan mengaitkan kedurhakaanku kepadamu karenanya… Karena selama ini, di mataku dia adalah istri yg baik, istri yg telah berupaya berbuat banyak untuk suami dan anak-anaknya… Istri yg selalu menyuruh untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua.
Ibu…
Ketika seorang laki-laki menikah dg seorang wanita, maka seolah-olah dia telah mendapatkan permainan baru, seperti anak kecil mendapatkan boneka atau orang-orangan. Maafkan aku ibu…
Aku tidaklah membela diriku, karena dari awal dan akhir pembicaraan ini kesalahan ada padaku, anakmu ini… Akan tetapi aku ingin menerangkan keadaan yg aku alami, perubahan suasana setelah engkau dan aku berpisah, tidak satu atap lagi…
Ibu…
Perkawinanku membuatku masuk ke alam dunia baru… dunia yg selama ini tidak pernah aku kenal… dunia yg hanya ada aku, istri dan anak-anakku… Bagaimana tidak, istri yg baik, anak-anak yg lucu-lucu! Maafkan aku Ibu… Maafkan aku anakmu… aku merasa dunia hanya milik kami, aku tidak peduli dg keadaan orang yg penting bagiku… yg penting bagiku adalah keadaan mereka: anak-anak dan istriku…
Ibu…
Maafkan aku, anakmu… Ampunkan aku, anakmu… Aku telah lalai… aku telah alpa… aku telah lupa… aku telah menyia-nyiakanmu…
Aku pernah mendengar kajian, bahwa orang tua difitrahkan untuk cinta kepada anaknya, akan tetapi anak difitrahkan untuk menyia-nyiakan orang tuanya… Oleh sebab itu, dilarang mencintai anak secara berlebihan, sebagaimana anak dilarang berbuat durhaka kepada orang tuanya… Itulah yg terjadi pada diriku, wahai Ibu!!
Aku pasti akan gila ketika melihat anakku sakit… Aku seperti orang kebingungan ketika melihat anakku diare… Tapi itu sulit, aku rasakan jika hal itu terjadi padamu wahai ibu… Itu sulit aku rasakan, jika seandainya hal itu terjadi pada ibu, dan pada ayah…
Ibu…
Sulit aku merasakan perasaanmu…
Kalaulah bukan karena bimbingan agama yg telah engkau talqinkan kepadaku, tentu aku telah seperti kebanyakan anak-anak yg durhaka kepada orang tuanya!!
Kalaulah bukan karena baktimu pula kepada orang tuamu dan orang tua ayahmu, niscaya aku tidak akan pernah mengenal arti bakti kepada orang tua.
Setelah suratmu datang, baru aku mengerti… Karena selama ini hal itu tidak pernah engkau ungkapkan, semuanya engkau simpan dalam-dalam seperti semua permasalahan berat, yg engkau hadapi selama ini.
Sekarang baru aku mengerti, wahai ibu… bahwa hari yg sulit bagi seorang ibu, adalah hari di mana anak laki-lakinya telah menikah dg seorang wanita… wanita yg telah mendapat keberuntungan…
Bagaimana tidak… Dia dapatkan seorang laki-laki yg telah matang pribadinya dan matang ekonominya, dari seorang ibu yg telah letih membesarkannya… Dari hidup ibu itulah ia dapatkan kematangan jiwa, dan dari uang ibu itu pulalah ia dapatkan kematangan ekonomi… Sekarang, -dg ikhlas- ia berikan kepada seorang wanita yg tidak ada hubungan denganya, kecuali hubungan dua wanita yg saling berebut perhatian seorang laik-laki… Dia sebagai anak dari ibunya dan dia sebagai suami dari istrinya.
Ibuku sayang…
Maafkan aku… Ampunkan diriku… Satu tetesan air matamu adalah lautan api neraka bagiku… Janganlah engkau menangis lagi, janganlah engkau berduka lagi!… Karena duka dan tangismu menambah dalam jatuhku ke dalam api neraka!! Aku takut Ibu…
Kalau itu pula yg akan kuperoleh… kalau neraka pula yg akan aku dapatkan… ijinkan aku membuang semua kebahagiaanku selama ini, hanya demi untuk dapat menyeka air matamu…
Kalau engkau masih akan murka kepadaku, izinkan aku datang kepadamu membawa segala yg aku miliki lalu menyerahkannya kepadamu, lalu terserah engkau… terserah engkau, mau engkau buat apa…
Sungguh ibu, dari hati aku katakan, aku tidak mau masuk neraka, sekalipun aku memiliki kekuasaan Firaun… kekayaan Karun… dan keahlian Haman… Niscaya aku tidak akan tukar dg kesengsaraan di akhirat sekalipun sesaat… Siapa pula yg tahan dg azab neraka, wahai Bunda… maafkan aku anakmu, wahai ibu!!
Adapun sebutanmu tentang keluhan dan pengaduan kepada Allah ta’ala, bahwa engkau belum mau mengangkatnya ke langit… bahwa engkau belum mau berdoa kepada Alloh akan kedurhakaanku… Maka, ampun, wahai Ibu!!
Kalaulah itu yg terjadi… dan do’a itu tersampaikan ke langit! Salah pula ucapan lisanmu!! Apalah jadinya nanti diriku… Apalah jadinya nanti diriku… Tentu aku akan menjadi tunggul yg tumbang disambar petir… apalah gunanya kemegahan, sekiranya engkau do’akan atasku kebinasaan, tentu aku akan menjadi pohon yg tidak berakar ke bumi dan dahannya tidak bisa sampai ke langit, di tengahnya dimakan kumbang pula…
Kalaulah do’amu terucap atasku, wahai bunda… maka, tidak ada lagi gunanya hidup… tidak ada lagi gunanya kekayaan, tidak ada lagi gunanya banyak pergaulan…
Ibu dalam sepanjang sejarah anak manusia yg kubaca, tidak ada yg bahagia setelah kena kutuk orang tuanya. Itu di dunia, maka aku tidak dapat bayangkan bagaimana nasibnya di akherat, tentu ia lebih sengsara…
Ibu…
Setelah membaca suratmu, baru aku menyadari kekhilafan, kealfaan dan kelalaianku.
Ibu… Suratmu akan kujadikan “jimat” dalam hidupku… setiap kali aku lalai dalam berkhidmat kepadamu akan aku baca ulang kembali… tiap kali aku lengah darimu akan kutalqinkan diriku dengannya… Akan kusimpan dalam lubuk hatiku, sebelum aku menyimpannya dalam kotak wasiatku… Akan aku sampaikan kepada anak keturunanku, bahwa ayah mereka dahulu pernah lalai di dalam berbakti, lalu ia sadar dan kembali kepada kebenaran… ayah mereka pernah berbuat salah, sehingga ia telah menyakiti hati orang yg seharusnya ia cintai, lalu ia kembali kepada petunjuk.
Bunda…
Tua… engkau berbicara tentang tua, wahai bunda…?! siapa yg tidak mengalami ketuaan, wahai ibu!!
Burung elang yg terbang di angkasa, tidak pernah bermain kecuali di tempat yg tinggi… suatu saat nanti dia akan jatuh jua, dikejar, dan diperebutkan oleh burung-burung kecil.
Singa, si raja hutan yg selalu memangsa, jika telah tiba tua, dia akan dikejar-kejar oleh anjing kecil tanpa ada perlawanan… Tidak ada kekuasaan yg kekal, tidak ada kekayaan yg abadi, yg tersisa hanya amal baik atau amal buruk yg akan dipertanggungjawabkan.
Ibu…
Do’akan anakmu ini, agar menjadi anak yg berbakti kepadamu, di masa banyak anak yg durhaka kepada orang tuanya… Angkatlah ke langit munajatmu untukku, agar aku akan memperoleh kebahagiaan abadi di dunia dan di akherat.
Ibu…
sesampainya suratku ini, insya Allah tidak akan ada lagi air mata yg jatuh karena ulah anakmu… setelah ini tidak ada lagi kejauhan antaraku denganmu…
bahagiamu adalah bahagiaku… kesedihanmu adalah kesedihanku… senyumanmu adalah senyumanku… tangismu adalah tangisku…
Aku berjanji, untuk selalu berbakti kepadamu buat selamanya, dan aku berharap agar aku dapat membahagiakanmu selagi mataku masih bisa berkedip… maka bahagiakanlah dirimu… buanglah segala kesedihan, cobalah tersenyum… Ini kami… aku, istri, dan anak-anak sedang bersiap-siap untuk bersimpuh di hadapanmu, mencium tanganmu.
Salam hangat dari anakmu yg durhaka…
(Disadur dari kajian Ustadz Armen -rohimahulloh-)
Sumber: addariny.wordpress.com

DRAMA : Masyarakat desa pedalaman

MASYARAKAT DESA PEDALAMAN
Disuatu desa tinggallah masyarakat desa yang miskin dan tidak miskin, serta masyarakat yang hidup dengan pas-pasan. Nama desa tersebut adalah Desa Wonoringi, masyarakat desa biasanya menjalani kehidupan mereka dengan akur terkadang masyarakat desa tersebut saling menyindir dan bergosip satu sama lain.
            Pada suatu hari tampak seorang ibu sedang mengantri untuk membayar listrik.
Fani          :          “oh Ivan berapa mhe listrik yang saya mau bayar ini bulan ?” (sambil menggendong anaknya).
Ivan          :          “Ini bulan yang mau dibayar delapan ribu Sembilan ratus lima puluh rupiah” (sambil melihat data yang ada dikomputer).
Fani          :          “Tina kasih cukupkan dulu uangku untuk bayar listrik, soalnya uangku Cuma lima ribu rupiah jhe, terus kamu tambah-tambahkan lagi biayanya listrikku nah. Kan  kamu sudah tau mhe saya ini orang miskin kasih cukupkan itu kasihan” (dengan suara mengeluh dan nada ketus).
Nurtina    :           “Kenapa kamu minta kasih cukupkan uangmu bayar listrik sama saya, sementara kamu yang pakai listrik, kenapa kamu suruh saya kasih cukupkan uang mu ? kalau dia marah bosku. trus ini loket juga bosku orang cina yang punya nanti apa mhe yang saya stor sama bosku? ” (dengan suara yang marah dan cepat).
Ivan           :         “Kalian ini bertengkar terus saja, tidak mau mhe berhenti kayak tikus dengan kucing, kamu bayar mhe itu uang listrikmu trus kamu pulang dirumahmu”.
Fani           :         “kamu juga biar sembilan ratus lima puluhnya kamu hitung juga” (menatap ivan).
Fadila        :         “Assalamu alaikum ada apa ini ibu-ibu bapak ?”
Fani, Nurtina dan Ivan Serentak menjawab salam dari ibu Fadila yang alim dan fani meneruskan omelannya.
Fani          :      “begini ibu haji mereka berdua kasi mahal listrik yang saya mau bayar”.
Nurtina    :       “Eeeehhh bisanya kamu bilang begitu. sementara tadi kamu yang suruh saya kasih cukupkan uangmu untuk bayar listrik  tadi, sekarang kamu fitnah lagi saya”
Fani          :      “Iiiiiihhh ngerinya dirimu. kamu tuduh saya fitnah dirimu sementara kamu yang fitnah diriku”.
Ivan          :      “Woooiii” (sambil memukul meja dan berkata) “kalian diam mhe, hanya marah-marah saja yang kalian urus dari tadi”.
Fani dan nurtina membalas gertaan dari Ivan dan berkata secara serentak “wei ko diam mhe kamu ko jadi laki-laki terlalu banyak urusanmu”
Fadila        :     “astagfirulalhaziiimmm. Kalian semua ini dari tadi hanya bertengkar terus tidak mau mengalah” (sambil mengheluskan dadanya sendiri).
Ivan          :      “Hmmmm tobat kalian di ceramai sama ustadzah”
Fadila       :      “kamu juga diam. mestinya kalian ini harus saling akur satu sama lain, bukan saling bertengkar, karena tidak ada yang mau mengalah akhirnya timbulah sebuah fitnah. Memfitnah satu samalain itu dosa besar lebih baik kalian semua saling maafan”.
Nurtina dan fani pun saling memaafkan dan berjabat tangan berkata “tin maafkan saya nah”. (lalu menyambung perkataanya di telinga “ kalau bukan uztadzah yang suruh saya, saya tidak mau minta maaf ” Tina pun juga membalas “iya saya juga”. Dan di sambung dengan bisikan “Biar lagi kamu minta maaf sama saya, diriku juga tidak mau maafkan kamu sampai lebaran tahun depan”.
Fadila         :    “Kalau begitu kan lebih baik, jadi tidak ada yang saling selisih pahamkan”.
Ivan            :    “betul-betul” !!!
Fadila         :    “Ohh ya kalau begitu saya juga mau bayar listrik. Eh brapa mhe listrik yang saya mau bayar ?“.
Ivan            :   “tunggu dulu bu, saya lihatkan dulu pembayarannya mamanya niki”
Tiba-tiba datang penjual pisang goreng
Rahimi        :    “Piissaaaaang Goorreeeng, Panaaaadaaa” (berteriak)
Nurtina       :     “Pisang goreng, sini ko”
Rahimi        :    “Iye, tunggu mhe saya ke situ !”
Pada saat fani sedang membayar listrik tiba-tiba terjadi lagi masalah.
Fani            :    “Ivan ini uangku lunas mhe toh ?”
Ivan            :    “iya bos”
Ketika Fani membalikkan badannya ke hadapan penjual pisang goreng lalu Rahimi terhenti langkahnya dan menatap muka fani. Fani pun menatap muka rahimi !”
Rahimi     :   “Eeeh mamanya niki ko bayar itu utangmu, ko makan panadaku ko tidak mau bayar alasanmu hanya tidak ada uangmu !”.
Fani       :      (muka pucat) “Astaga utang yang mana ?”
Rahimi  :      jangan ko menyangkal, memang kau, ko berlebihan masekemu (Mendekati fani)”
Fani pun berlari namun langkahnya terhenti karena dai menabrak penjual ikan kemudian penjual ikan itu marah karena semua ikannya terjatuh.
Nurtina    :      “Hmmm tobat, itu mhe karmanya orang yang terlalu maseke”
Ivan         :      “hahahahahah canti-cantik tapi tidak ada uangnya pale”
Fadila      :      “Astagfirulalhazim, kalian itu mestinya tidak menghinanya dalam kesusahan”
Adenai    :      “Kau ini !!! ko jalan kotidak liat-liat. Akhirnya begini mhe jadinya. Aaagghhh ko ganti ini ikan ku”
Fani         :      “bisanya itu, kamu yang jalan tidak liat-liat, sa siku stengah ko itu”
Fadila mendekati fani dan hendak mengendog niki.
Fadila     :       “sini niki, nanti saya yang jaga anakmu. Kamu selesaikan dulu masalahmu !”.
Fani pun memberikan niki kepada fadila. Pertengkaran adu mulut pun semakin memanas antara fani, adenai dan rahimi. Sementara yang lain menghibur anaknya fani. Tiba-tiba datanglah seorang polisi.
Risko     :       “ada apa ini ???”
Rahimi   :      “ada pisang goreng, tahu isi sama panada !”
Adenai   :      “ini lagi tidak nyambung, sembarang da bicara, makanya telingah dipasang !”
Fani        :      “ih polisi mati saya pwa “ (suara pelan)
Risko     :       “ada apakah sebenarnya ini ? masalah apa yang kalian bahas sampai-sampai ribut sekali?”
Adenai    :      “begini pak, ini orang da tabrak saya tadi, akhirnya da jatuh mhe semuanya ikanku !”
Rahimi   :     “trus pak da tidak mau bayar utangnya !!!”
Fani       :      “bisanya itu, sementara kamu yang tabrak saya “ (menunjuk adenai) “kamu juga sembarang ko tuduh saya biar bukan saya yang makan tapi niki”
Risko        :     “semuanya tenang dulu pak ibu”
Adenai      :     “pokoknya kamu harus ganti ini ikanku titik”
Rahimi       :     “ko bayar juga utangmu”
Fani            :      “aahh sa tidsak mau jhe”
Adenai       :      “aahh bicara banyak saja kau “
Risko         :     “kalau begitu kita selesaikan saja di kantor polisi agar semua pihak yang terlibat dalam masalah ini bisa menerima hasil keputusannya”
Fani            :     “pak polisi juga sembaraaaang kayak tidak ada tempat lain“
Rahimi       :      “oowwwww pasti ko takut toh ?”
Fani           :     “bisanya ko bilangi saya taku ? kalau begitu kita pergi baku angkat di kantor polisi !”
Adenai      :    “iyo sini mhe !!!”
Rahimi      :     “eehh sebentar phe saya ikut kalian di kantor polisi nah saya mau menjual dulu ! penjual bale saya titip utangnya mamanya niki nah !!!”
Adenai       :    “oke , yang poko ada flus-flusnya !!!
Rahimi       :    “ohhh flus-flusnya panada saja satu biji !!! oke mhe !!!!
Adenai      :     “terserah mhe !!!
Risko        :     “pak ibu sebentar di urus flus-flusnya, urusan belakang itu !!!
Risko, Adenai dan fani pun kekantor polisi. Tiba-tiba munculah seorang pengemis
Syaiful    :     “bu apa itu ?”
Rahimi     :      “panada, kenapakah ???”
Syaiful     :      “tidak jhe, Cuma liat-liat saja. Eehhh bisakah minta satu panadanya kita, soalnya saya belum makan ini hari !!!”
Rahimi     :    “kaasiiaannn !!! kalau mau makan harus kerja dulu kalau tidak ada uangmu ko pergi cari kerja dulu !!!”
Fadila      :     “bu jangan begitu, kita sebagai orang yang mampu harus memberikan sebagian harta kita kepada kaum fakir miskin atau orang yang tidak mampu seperti orang yang ada di hadapan kita saat ini” !!!.
Rahimi      :      “astagfirulalhazim, untung kita ingatkan saya ibu kalau tidak saya bikin dosa lagi !!!.
Syaiful     :    “hmm dengar itu makanya kalau jadi orang jangan sampai lupa diri.
Nurtina    :     “heeii jangan kamu tambah-tambahi bicaranya orang tua !!!.
Syaiful    :     “iyow jhe !!!. saya hanya keceplosan saja !!!.
Ivan        :      “berapa panadamu satu biji ?
Rahimi     :    “seribu rupiah jhe !!!!!.
Nurtina    :     “bisa ditawar ?
Rahimi    :     “jangan ditawar !!!.
Syaiful     :    “kenapa jangan ditawar ???”
Rahimi     :   “harga pasnya mhe kasian, modalku juga ini karena sedikit jhe untungnya !!!.
Rahimi pun memberikan sebiji panada kepada iphul, dan kehidupan desa tersebut kembali normal. Pada akhirnya Fani pun mengalah kepada polisi karena terbukti bersalah dan suami fani yang baru pulang dari perantauannya di Negeri Jiran selama lima tahun akhirnya kembali dan membayar lunas semua utang-utang fani.





tugas sejarah nusantara pada era kerajaan hindu budha

Sejarah Nusantara pada era kerajaan Hindu-Buddha

Indonesia mulai berkembang pada zaman kerajaan Hindu-Buddha berkat hubungan dagang dengan negara-negara tetangga maupun yang lebih jauh seperti India, Tiongkok, dan wilayah Timur Tengah. Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal tarikh Masehi, dibawa oleh para musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya, yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para musafir dari Tiongkok yakni musafir Budha Pahyien.
Pada abad ke-4 di Jawa Barat terdapat kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha, yaitu kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16.
Pada masa ini pula muncul dua kerajaan besar, yakni Sriwijaya dan Majapahit. Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I-Tsing mengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Tengah dan Kamboja. Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada, berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dan pembentukan kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracarita Ramayana.
Masuknya ajaran Islam pada sekitar abad ke-12, melahirkan kerajaan-kerajaan bercorak Islam yang ekspansionis, seperti Samudera Pasai di Sumatera dan Demak di Jawa. Munculnya kerajaan-kerajaan tersebut, secara perlahan-lahan mengakhiri kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, sekaligus menandai akhir dari era ini.

Kenapa Pendidikan di Negara Asia Timur dan Singapura Lebih Maju ? Ini Jawaban Jujur AI

Pendidikan: Kebutuhan Primer untuk Masa Depan yang Lebih Baik Pendidikan memiliki banyak manfaat yang sangat mendasar dalam kehidupan manusi...