Senin, 03 September 2018

Sejarah masuknya Islam di Indonesia


Islam lahir di Mekah tahun 611 M ditandai dengan turunnya ayat Al-Qur’an yang pertama. Mula-mula ajaran Islam ini berkembang di Mekah dan Madinah, kemudian berkembang di seluruh Timur Tengah, Eropa Selatan, dan ke timur hingga Indonesia. Mula-mula Islam dibawa oleh para pedagang Gujarat, kemudian diikuti oleh orang-orang Arab dan Persia. Para pedagang Gujarat ini pada umumnya memeluk Islam. Sambil berdagang, mereka menyebarkan ajaran Islam di tempat-tempat mereka berlabuh.

Islam masuk ke Indonesia
Ada beberapa pendapat mengenai masuknya Islam ke Indonesia. Pendapat tersebut mereka kemukakan berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan. Pendapat yang menyatakan pengaruh Islam mulai masuk ke Indonesia adalah antara abad ke-7 dan ke-8 telah terdapat perkembangan orang Islam di sekitar Selat Malaka.
Pendapat lain menyatakan pengaruh Islam mulai masuk ke Indonesia abad ke-11. Pendapat ini mendasarkan bukti pada sebuah batu nisan Fatimah binti Maimun yang dikenal dengan Batu Leran di daerah Tuban Jawa Timur yang berangka tahun 1082 M. Ada juga yang berpendapat pengaruh Islam mulai masuk ke Indonesia pada abad ke-13. Pendapat ini berdasarkan bukti-bukti berikut.
  • Batu nisan Sultan Malik al Saleh berangka tahun 1297 M. Sultan Malik al Saleh adalah Raja Samudra Pasai pertama yang masuk Islam. Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Nusantara.
  • Catatan perjalanan Marco Polo yang pernah singgah di Kerajaan Perlak (1292). Dalam catatannya menceritakan penduduk kota Perlak telah menganut Islam, sedangkan di luar kota belum (masih animisme dan dinamisme).
  • Catatan Ibnu Battuta (1345-1346) yang menyatakan bahwa bangsa penguasa Samudra Pasai menganut paham Syafi’i. Hal ini membuktikan bahwa agama Islam sudah berkembang di Samudra Pasai.
  • Catatan Ma-Huan musafir Cina ini memberitakan pada awal abad ke-15 M, sebagian besar masyarakat di pantai utara Jawa Timur telah memeluk agama Islam.
  • Suma Oriental dari Tome Pires musafir Portugis memberitahukan tentang penyebaran Islam antara tahun 1512 sampai tahun 1515 M, meliputi Sumatera, Kalimantan, Jawa hingga Kepulauan Maluku.
Faktor pendukung Islam cepat berkembang di Indonesia
Faktor-faktor yang mendukung penyebaran Islam cepat berkembang di Indonesia adalah sebagai berikut.
  • Ajarannya sederhana, mudah dimengerti dan diterima.
  • Syaratnya mudah, hanya dengan ucapkan kalimat Syahadat, yang berisi pengakuan adanya “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah”
  • Islam tidak mengenal kasta, sehingga lebih menarik bagi rakyat biasa yang jumlahnya justru lebih besar.
  • Upacara-upacara keagamaan sangat sederhana.
  • Islam disebarkan dengan cara damai lewat kesenian dan akulturasi dengan kebudayaan setempat.
  • Jatuhnya Majapahit dan Sriwijaya menyebabkan kerajaan-kerajaan Islam berkembang pesat.
Saluran penyebaran Islam di Indonesia
Saluran-saluran penyebaran Islam yang digunakan pada abad ke-13 sampai abad ke-16 adalah seperti berikut ini.
  • Perdagangan, yaitu penyebaran ajaran Islam yang dilakukan oleh seorang pedagang Islam kepada pedagang lain.
  • Perkawinan, seorang penganut Islam menikah dengan seorang yang belum menganut Islam, sehingga pasangannya ikut masuk Islam.
  • Kesenian, yaitu penyebaran Islam dengan menggunakan media seni wayang, musik rebana, syair, dan sebagainya.
  • Akulturasi dan asimilasi kebudayaan, hal ini dilakukan dengan menggunakan unsur-unsur kebudayaan lama untuk usaha penyebaran Islam. Misalnya menggunakan doa-doa Islam dalam upacara adat seperti kelahiran, selapanan, perkawinan, seni wayang kulit untuk dakwah. dan sebagainya.
  • Pondok pesantren adalah perguruan khusus ajaran agama Islam. Penyebaran lewat pondok pesantren berarti penyebaran melalui perguruan Islam.
Kita cukup bangga dengan cara-cara damai Islam berkembang pesat di Indonesia. Berkat peranan ulama yang bijaksana, dalam waktu yang singkat Islam menyebar ke seluruh Indonesia. Sampai sekarang Islam menjadi agama mayoritas penduduk Indonesia, serta menjadi benteng yang sangat kuat bagi munculnya paham-paham atheisme yang masuk ke negara kita.
http://afghanaus.com/sejarah-masuknya-islam-di-indonesia/ 

Contoh Makalah tentang Sejarah Proses Masuk Dan Berkembangnya Islam Di Indonesia

Masuknya Agama Islam di Indonesia
Sekitar abad ke-7 dan ke-8 Indonesia sudah ada pedagang-pedagang dari India (Gujarat), Arab dan Persia. Mereka berdagang di Indonesia dengan memperdagangkan rempah-rempah dan emas. Pada waktu itu Selat Malaka merupakan tempat yang paling ramai di Nusantara, maka dari itu Selat Malaka berperan sebagai pintu gerbang ke lautan Nusantara.
Sambil menunggu angin musim yang baik, para pedagang asing tersebut melakukan interaksi dengan penduduk setempat, selain menjalin hubungan dagang, para pedagang asing membawa ajaran Islam beserta kebudayaannya sehingga semakin lama ajaran dan kebudayaan Islam berpengaruh terhadap penduduk setempat.
Pada awalnya pengaruh Islam hanya berkembang di daerah-daerah pantai, namun lambat laun berkembang di wilayah pedalaman. Ada beberapa pendapat yang menyatakan tentang masuknya Islam ke Indonesia. Pendapat tersebut antara lain :
  1. Masuknya Islam ke Indonesia antara abad 7 dan 8, buktinya pada abad 7 dan 8 telah terdapat perkampungan Islam di sekitar Malaka.
  2. Islam masuk ke Indonesia pada abad 11, buktinya Nisan Fatimah binti Maimun di desa Leran (Gresik) Jawa Timur yang berangka tahun 1082
  3. Islam masuk ke Indonesia pada abad 13, buktinya :
  • Batu nisan Sultan Malik Al Saleh berangka tahun 1297
  • Catatan Marcopolo tahun 1292 yang menyatakan bahwa penduduk Perlak telah memeluk agama Islam
  • Catatan Ibnu Batutah tahun 1345 -1346 yang menyatakan bahwa penguasa Samudra Pasai menganut paham Syafi’i
  • Catatan Ma Huan yang menyatakan bahwa pada abad 15 sebagian besar masyarakat di Pantai Utara Jawa Timur telah memeluk agama Islam
  • Summa Oriental karya dari Tome Pires yang memberitahukan tentang penyebaran Islam meliputi Sumatera, Kalimantan, Jawa hingga kepulauan Maluku.
Kerajaan Islam yang berkembang di Indonesia
Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam yang pertama kali berdiri di Indonesia. Kerajaan Samudra Pasai yang terletak di Lhokseumawe berdiri pada abad ke-13. Raja pertama Samudra Pasai adalah Sultan Malik Al Saleh yang memerintah hingga tahun 1297.
Sepeninggal Sultan Malik Al Saleh, Samudra Pasai diperintah oleh Sultan Malik Al Tahir. Pada masa pemerintahannya Samudra Pasai berkembang menjadi daerah perdagangan dan penyebaran Islam.
Banyak pedagang muslim Arab dan Gujarat yang tinggal di Samudra Pasai sehingga Samudra Pasai berperan besar dalam penyebaran agama Islam di Indonesia
Perkembangan Kerajaan Samudra Pasai didorong beberapa faktor yaitu :
  1. Letak Samudra Pasai strategis di tepi selat Malaka
  2. Melemahnya kerajaan Sriwijaya yang menyebabkan Samudra Pasai berkesempatan untuk berkembang
Samudra pasai selanjutnya diperintah oleh Sultan Ahmad. PADA masa ini terjalin dengan kesultanan Dehli di India yang dibuktikan dengan kedatangan Ibnu Batutah di Samudra Pasai tahun 1345 kerajaan Samudra Pasai akhirnya mengalami kemunduran sepeninggal Sultan Ahmad. Hal ini disebabkan oleh terdesaknya perdagangan Samudra Pasai oleh Malaka
Kerajaan Aceh
Kerajaan Aceh berdiri pada awal abad ke-16 yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah setelah berhasil melepaskan diri dari kerajaan Pedir. Beberapa faktor yang mendorong berkembangnya kerajaan Aceh, antara lain :
  • Jatuhnya Malaka dalam kekuasaan Portugis tahun 1511
  • Letak kerajaan Aceh sangat strategis pada jalur perdagangan internasional
  • Kerajaan Aceh mempunyai pelabuhan dagang yang ramai dan menjadi pusat agama Islam.
Kerajaan Aceh akhirnya mengalami puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Wilayah kekuasaan kerajaan Aceh bertambah luas hingga ke Deli, Nias, Bintang, Johor, Pahang, Perah dan Kedah. Dalam upayanya memperluas wilayah ternyata diikuti dengan upacara penyebaran agama Islam sehingga daerah-daerah yang dikuasai Kerajaan Aceh akhirnya menganut Islam
Corak pemerintahan kerajaan Aceh memiliki ciri khusus yang didasarkan pemerintahan sipil dan agama. Hukum adat dijalankan berlandaskan Islam yang disebut Adat Maukta Alam.
Setelah Sultan Iskandar Muda meninggal Aceh mengalami kemunduran karena :
  • Tidak ada raja-raja yang mampu mengendalikan daerah Aceh yang demikian luas
  • Timbulnya pertikaian antara golongan bangsawan (teuku) dan golongan ulama (teungku)
  • Timbulnya pertikaian golongan ulama yang beraliran Syiah dan Sunnah Wal Jamaah
  • Banyak daerah yang melepaskan diri seperti Johong, Pahang, Perlak, Minangkabau dan Syiak
  • Mundurnya perdagangan karena selat Malaka dikuasai Belanda (1641)
2. Kerajaan Demak
Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah pada akhir abad 15, setelah berhasil melepaskan diri dari pengaruh kerajaan Majapahit. Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama yang berdiri di Pulau Jawa.
Pada masa pemerintahan Raden Patah, Demak mengalami perkembangan pesat. Faktor-faktor pendorong kemajuan kerajaan Demak adalah :
  1. Runtuhnya kerajaan Majapahit
  2. Letak Demak strategis di daerah pantai sehingga hubungan dengan dunia luar menjadi terbuka.
  3. Pelabuhan Bergota di Semarang merupakan pelabuhan ekspor impor yang sangat penting bagi Demak
  4. Demak memiliki sungai sebagai penghubung daerah pedalaman
Kerajaan Demak dengan bantuan wali sanga berkembang menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa pada masa inilah Masjid Agung Demak dibangun. Ketika Malaka. Dikuasai Portugis, Demak merasa dirugikan sehingga pasukan Demak yang dipimpin Pati Unus dikirim untuk menyerang Portugis di Malaka tahun 1513, tetapi mengalami kegagalan. Pati Unus kemudian terkenal dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor.
Kerajaan Pajang
Kerajaan pajang didirikan oleh Joko Tingkir yang telah menjadi raja bergelar Sultan Hadiwijaya. Pada masa pemerintahannya, kerajaan mengalami kemajuan. Pengganti Sultan Hadiwijaya adalah putraya bernama pangeran Benowo. Pada masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan Arya Pangiri (Putra Sultan Prawoto). Akan tetapi pemberontakan tersebut dapat ditumpas oleh Sutawijaya (Putra Ki Ageng Pemanahan). Pangeran Benowo selanjutnya menyerahkan pemerintahan Pajang kepada Sutawijaya. Sutawijaya kemudian memindahkan pemerintahan Pajang ke Mataram.
Kerajaan Mataram Islam
Kerajaan Mataram Islam berdiri tahun 1586 dengan raja yang pertama Sutawijaya yang bergelar Panembahans Senopati (1586-1601). Pengganti Penembahan Senopati adalah Mas Jolang (1601 – 1613). Dalam usahanya mempersatukan kerajaan-kerajaan Islam di Pantai untuk memperkuat kedudukan politik dan ekonomi Mataram. Mas Jolang gugur dalam pertempuran di Krapyak sehingga dikenal dengan nama Panembahan Seda Krapyak.
Kerajaan Mataram kemudian diperintah Sultan Agung pada masa inilah Mataram mencapai puncak kejayaan. Wilayah Mataram bertambah luas meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat kemajuan yang dicapai Sultan Agung meliputi :
1) Bidang Politik
Sultan Agung berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa dan menyerang VOC di Batavia. Serangan Mataram terhadap VOC dilakukan tahun 1628 dan 1929 tetapi gagal mengusir VOC. Penyebab kegagalan antara lain :
a. Jaraknya terlalu jauh yang mengurangi ketahanan prajurit Mataram
b. Kekurangan persediaan makanan
c. Pasukan Mataram kalah dalam persenjataan dan pengalaman perang.
2) Bidang Ekonomi
Kerajaan Mataram mampu meningkatkan produksi beras dengan memanfaatkan beberapa sungai di Jawa sebagai irigasi
3) Bidang Sosial Budaya
  1. Munculnya kebudayaan kejawen yang merupakan kebudayaan asli Jawa dengan kebudayaan Islam
  2. Sultan Agung berhasil menyusun Tarikh Jawa
  3. Ilmu pengetahuan dan seni berkembang pesat, sultan Agung mengarang kita sastra Gending Nitisruti dan Astabrata.
Sepeninggal Sultan Agung tahun 1645, kerajaan mataram mengalami kemunduran sebab penggantinya cenderung bekerjasama dengan VOC.
Kerajaan Cirebon
Kerajaan Cirebon didirikan Fatahillahs setelah menyerahkan Banten kepada putranya. Pada masa pemerintahan Fatahillah (Sunan Gunung Jati) perkembangan agama Islam di Cirebon mengalami kemajuan pesat. Pengganti Fatahillah setelah wafat adalah penembahan Ratu, tetapi kerajaan Cirebon mengalami kemunduran. Pada tahun 1681 kerajaan Cirebon pecah menjadi dua, yaitu Kasepuhan dan Kanoman.
Kerajaan Makasar
Kerajaan Makasar yang berdiri pada abad 18 pada mulanya terdiri dari dua kerajaan yaitu kerajaan Gowa dan Tallo (Gowa Tallo) yang beribu kota di Sombaopu. Raja Gowa Daeng Maurabia menjadi raja Gowa Tallo bergelar Sultan Alaudin dan Raja Tallo Karaeng Matoaya menjadi patih bergelar Sultan Abdullah.
Kerajaan Gowa Tallo (Makasar) akhirnya dapat berkembang menjadi pusat perdagangan yang didorong beberapa faktor, antara lain :
  1. Letaknya strategis yang menghubungkan pelayaran Malaka-Jawa-Maluku
  2. Letaknya di muara sungai yang memudahkan lalu lintas perdagangan antar daerah pedalaman
  3. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis yang mendorong para pedagang mencari pelabuhan yang memperjual belikan rempah-rempah
  4. Kemahiran penduduk Makasar dalam bidang pelayaran dan pembuatan kapal.
Kerajaan Ternate
Kerajaant Ternate berdiri pada abad ke-13 yang beribu kota di Sampalu. Agama Islam mulai disebarkan di Ternate pada abad ke-14. pada abad ke-15 Kerajaan Ternate dapat berkembang pesat oleh kekayaan rempah-rempah terutama cengkih yang dimiliki Ternate dan adanya kemajuan pelayaran serta perdagangan di Ternate.
Ramainya perdagangan rempah-rempah di Maluku mendorong terbentuknya persekutuan dagang yaitu :
  • Uli Lima (Persekutuan Lima) yang dipimpin Kerajaan Ternate
  • Uli Syiwa (Persekutuan Sembilan) yang dipimpin kerajaan Tidore
Kerajaan Ternate mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Baabullah. Pada saat itu wilayah kerajaan Ternate sampai ke daerah Filipina bagian selatan bersamaan pula dengan penyebaran agama Islam. Oleh karena kebesaransnya, Sultan Baabullah mencapa sebutan “Yang dipertuan” di 72 pulau.
Kerajaan Tidore
Kerajaan Tidore berdiri pada abad ke-13 hampir bersamaan dengan kerajaan Ternate. Kerajaan Tidore juga kaya rempah-rempah sehinga banyak dikunjungi para pedagang. Pada awalnya Ternate dan Tidore bersaing memperebutkan kekuasaan perdagangaan di Maluku. Lebih-lebih dengan datangnya Portugis dan Spanyol di Maluku. Akan tetapi kedua kerajaan tersebut akhirya bersatu melawan kekuasaan Portugis di Maluku.
Kerajaan Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Nuku. Pada masa pemerintahannya berhasil memperluas daerahnya sampai ke Halmahera, Seram dan Kai sambil melakukan penyebaran agama Islam.

Minggu, 13 April 2014

PENGARUH DESAIN KERJA TERHADAP KINERJA ORGANISASI



Tugas Teori Organisasi

PENGARUH DESAIN KERJA TERHADAP KINERJA ORGANISASI
 (KAJIAN TEORITIS DAN IMPLEMETASI)






OLEH :
SYAIFUL RAHMAN
B1B1 13180


JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2014







KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah, swt. atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Shalawat dan salam tak lupa penulis panjatkan kepada junjungan nabi besar Muhammad, saw. beserta para keluarga, sahabat dan umatnya yang Insya Allah setia sampai akhir jaman.
Melalui makalah ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada teman-teman yang telah mendukung dan menbantu ketika penulis membutuhkan ide dan cara-cara menemukan sumber. Kepada orang tua, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih setulus hati, sebab merekalah yang telah membiayai dan member dorongan moril dalam setiap menjejaki langkah menuju ilmu pengetahuan. Terima kasih patut penulis hanturkan kepada dosen pembiming mata kuliah teori organisasi yang telah membimbing dengan penuh kesabaran.
Dalam penulisan makalah ini, tentunya tidak terlepas dari kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun guna menutupi kekurangan, penulis butuhkan sebagai pembelajaran.


Kendari,    Maret 2014



Penulis 




DAFTAR ISI

Halaman Judul ………………………………………………………………….. i
Kata Pengantar …………………………………………………………………. ii
Daftar Isi ……………………………………………………………………….. iii
BAB I Pendahuluan ……………………………………………………………. 1
1.1.Latar Belakang ……………………………………………………... 1
1.2.Rumusan Masalah ………………………………………………….. 2
1.3.Tujuan ……………………………………………………………… 2
1.4.Manfaat …………………………………………………………….. 2
BAB II Pembahasan …………………………………………………………… 3
BAB III Penutup ………………………………………………………………. 9
3.1. Simpulan ……………………………………………………………… 9
3.2. Saran ………………………………………………………………….. 9
Daftar Pustaka …………………………………………………………………. 11
Lampiran ………………………………………………………………………. 13










BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar belakang
Indonesia merupakan salah satu Negara yang sangat kaya akan budaya, baik budaya didalam hal kesenian, kerajinan, dan sejarah, tetapi yang tidak pernah terlihat oleh bangsa Indonesia sendiri adalah bahwa masyarakat Indonesia ternyata memiliki budaya kerja yang berbeda setiap individu, hal ini terbukti ketika ada sebuah perusahaan swasta yang lebih memilih membayar tenaga ahli dari luar negeri ( misalkan jepang), padahal untuk segi kapabilitas kemampuan antara tenaga ahli dari Indonesia dan luar negeri sebenarnya tidak jauh beda tetapi kenapa perusahaan swasta ini lebih memilih tenaga kerja asing untuk menempati beberapa posisi tertentu didalam perusahaannya?, ternyata ketika salah satu CEO dari perusahaan swasta ini ditanya pertanyaan seperti diatas, beliau menjawab bahwa untuk setiap posisi tertentu kami lebih memilih pekerja asing dikarenakan budaya kerja dari Negara ini ataupun individu lebih baik dan bertanggung jawab daripada beberapa tenaga kerja di Indonesia walaupun tidak semua.
Deskripsi diatas menunjukan pengaruh dari budaya kerja suatu individu dari Negara tertentu ternyata memiliki pengaruh dalam desain pekerjaan. Individu membentuk cara didalam melakukan pekerjaan mereka untuk membuat pekerjaan mereka lebih berharga (Wrzesniewski & Dutton, 2001). Adanya suatu lintas budaya (Cross Culture) tampaknya memiliki dampak dan pengaruh tertentu pada bagaimana cara orang megkreasikan pekerjaan mereka. Secara umum didalam suatu perusahaan atau organisasi ada sebuah persyaratan dimana kira-kira individu dapat melakukan pekerjaan mereka, hal ini pada gilirannya menentukan apakah desain pekerjaan merupakan hal yang menguntungkan dan atau bermakna. Masyarakat dan budaya yang berbeda memiliki perspektif waktu yang berbeda, atau orientasi, sehubungan dengan penekanan mereka pada masa lalu, sekarang, dan masa depan (Hall & Hall, 1987; Schein, 1992).
Desain pekerjaan telah muncul didalam berbagai perusahaan, organisasi dan Negara. Nilai tingkat budaya nasional yang telah di internalisasi melalui proses sosialisasi dapat berfungsi sebagai suatu criteria apakah suatu desain pekerjaan tertentu memberikan sebuah kesempatan individu untuk mendapatkan harga diri dan kesejahteraan (Erez & Dini, 1993). Menurut Erez (2008), untuk diri sendiri, pekerjaan memiliki pengaruh langsung pada persepsi individu apakah pekerjaan atau desain pekerjaan dapat memfasilitasi atau bahkan menghambat individu didalam mendapatkan sebuah harga diri dan kesejahteraan.
1.2.Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yakni bagaimana pengaruh desain kerja terhadap kinerja organisasi ?
1.3.Tujuan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah memberikan deskripsi pengaruh desain kerja terhadap kinerja organisasi serta sebagai pemenuhan  nilai terhadap mata kuliah teori organnisasi.
1.4.Manfaat
Dapat menambah pengetahuan penulis mengenai desain kerja serta pengaruhnya terhadap kinerja organisasi, dapat dijadikan bahan informasi, acuan dan pertimbangan bagi perusahaan dalam melaksanakan kebijakan perusahaan mengenai permasalahan yang dibahas dalam makalah ini. Selain itu, bagi kepentingan akademis/peneliti lainnya dapat dijadikan sebagai dasar dan bahan acuan serta literatur untuk penelitian sejenis lainnya.





BAB II
PEMBAHASAN
Robbins (1996) menyatakan bahwa “organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar relatif, terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan”
Untuk mencapai tujuan itu, Handoko (1992) menyatakan perlunya proses pengorganisasian, dan proses ini tercermin dalam struktur organisasi. Handoko (1992) juga menyatakan, struktur organisasi, mencakup aspek – aspek penting, antara lain: (1) pembagian kerja; (2), departementalisasi; (3), bagan organisasi formal; (4) rantai perintah dan kesatuan perintah; (5) tingkat - tingkat hierarki manajemen; (6) saluran komunikasi; (7) penggunaan komite; dan (8) rentang manajemen dan kelompok - kelompok informal yang tidak dapat dihindarkan.
2.1. Budaya dan Perilaku
Globalisasi pasar dan kompetisi internasional memaksa perusahaan-perusahaan beroperasi di dalam suatu lingkungan multibudaya (multicultural environment). Demikian juga dengan adanya pola-pola migrasi dan media komunikasi transnasional seperti televisi satelit dan internet yang menciptakan populasi multibudaya (multicultural populations) di dalam pasar-pasar domestik dan membuka konsumen-konsumen menuju kebutuhan-kebutuhan dan perilaku-perilaku alternatif.
Perilaku seorang individu merupakan hasil dari sistem nilai (values) yang dimiliki individu tersebut untuk keadaan tertentu. Sistem-sistem nilai budaya individu dikembangkan sepanjang waktu sejalan mereka bersosialisasi dengan grup/kelompok tertentu. Budaya masyarakat/lembaga juga regional subculture dan nilai-nilai keluarga semuanya mempengaruhi pembentukan sistem nilai individu. Karenanya, sistem nilai budaya (cultural value system) memasukkan elemen-elemen budaya yang dimiliki individu individu pada umumnya dengan grup-grup di mana mereka berada, hal ini bisa dipandang sebagai keunikan nilai-nilai idiosyncratic terhadap individu.
Budaya mempengaruhi perilaku melalui manifestasi-manifestasinya, seperti yang diungkapkan oleh Hofstede, yaitu: values, heroes, rituals, dan symbols. Ini semua merupakan bentuk-bentuk di mana secara cultural penetapan knowledge disimpan dan diungkapkan. Karena itu, setiap budaya grup menghadapi manifestasi-manifestasi budaya yang berbeda pula.
2.2.Budaya dan Dimensi Budaya Nasional
Budaya (culture) merupakan keseluruhan pola pemikiran, perasaan dan tindakan dari suatu kelompok sosial, yang membedakan dengan kelompok sosial yang lain. Istilah the collective mental programming atau software of mind digunakan untuk menyebutkan keseluruhan pola dalam kajian budaya. Mental prorams atau budaya suatu kelompok terbentuk oleh lingkungan sosial, (seperti negara, daerah, tempat kerja, sekolah dan rumah tangga) dan kejadian-kejadian yang dialami dalam kehidupan para anggota kelompok yang bersangkutan. Kemudian proses terbentuknya pola fikir, perasaan dan perbuatan tersebut dianalogikan dengan proses penyusunan program dalam komputer.
Budaya dapat dikelompokkan ke dalam berbagai tingkatan antara lain: nasional, daerah, gender, generasi, kelas sosial, organisasional atau perusahaan.
a.       Budaya Nasional (National Culture)
Dimensi-dimensi perbedaan budaya dalam penelitian budaya nasional meliputi:
·         Power Distance, satu dari ‘dimensi’ budaya nasional yang merefleksikan jarak jawaban yang ditemukan dalam beragam negara ke dalam pertanyaan mendasar tentang bagaimana meng elola fakta bahwa orang-orang dalam keadaan tidak seimbang.
·         Collectivism Vs Individualism, Mayoritas orang di dunia yang tinggal dalam suatu komunitas yang memiliki minat pada kelompok melebihi secara individu disebut sebagai kelompok masyarakat collectivist. Sedangkan Minoritas orang di dunia hidup dalam masyarakat di mana minat-minat individu di atas minat kelompok, masyarakat itu disebut sebagai individualist.
·         Masculinity/ Feminity, Dalam suatu masyarakat terdiri atas laki-laki dan perempuan. Secara biologis mereka berbeda. Perbedaan biologis menggunakan terminologi male dan female, sedangkan perbedaan sosial dan secara budaya ditentukan oleh peran masculine dan feminine.
·         Uncertainty Avoidance, Sebagai manusia kita harus berhadapan dengan fakta bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok; masa yang akan datang tidak pasti tetapi kita harus menghadapinya. Ketidakpastian yang ekstrim menciptakan kegelisahan yang tidak dapat ditolelir.
Didalam teori Hofstede ciri budaya atas dasar dimensi nilai budaya. Keuntungan dari Hofstede adalah bahwa secara khusus ditujukan kerja dari nilai-nilai yang terkait, membuat dimensi nya secara intuitif dipahami dan lebih spesifik. Pada dasarnya pentingnya dimensi Hofstade adalah  bahwa dimensi nilai budaya ternyata banyak terbukti memiliki korelasi dengan banyak  fenomena social dan bisnis.
2.3. Desain Pekerjaan (Job Design)
Desain pekerjaan (Job Design) adalah struktur, isi, dan konfigurasi tugas pekerjaan dan peran seseorang (Parker & Ohly, 2008). Untuk dapat memiliki pemahaman yang lebih baik mengapa desain pekerjaan selalu memainkan peran sentral dalam  sistem kerja, yang terbaik adalah melihat sejarah desain pekerjaan (Grant,A.M. dan Juillerat, 2010).
Pendekatan desain pekerjaan sebenarnya telah diatur sedemikian rupa sehingga secara tidak langsung mempengaruhi karyawan dalam kepuasan dan motivasi kerja. Sekarang, desain pekerjaan telah mengambil perspektif yang lebih luas, dengan berbagai dimensi seperti:
a.       Job Enrichment (JE),
b.      Job Engginering (JENG),
c.       Quality of Worklife (QWL),
d.      Socio Technical Design
e.       Social Information Processing Approaches
Ada banyak upaya diarahkan untuk konsep dan mengukur struktur desain pekerjaan. Hal tersebut  diketahui jika pekerjaan dirancang dengan baik, kepuasan kerja dan kualitas kinerja akan meningkat. Desain pekerjaan dapat dibawa ke perspektif yang lebih luas. Ada berbagai pendekatan yang memungkinkan  organisasi untuk merancang pekerjaan bagi para karyawannya.
Pendekatan motivasi untuk desain pekerjaan, berbagai tugas, identitas tugas, signifikansi tugas, otonomi dan  umpan balik semua memiliki efek positif terhadap proses desain pekerjaan dalam menciptakan efisiensi dan efektifitas didalam kerja.
2.4.Pendekatan Budaya (Culture) dalam Desain Pekerjaan (Job Desaign)
Pada dasarnya dengan melihat teori Natioanl Culture yang diungkapkan oleh Hofstade dapat diketahui tentang pendekatan dan hubungan antara desain pekerjaan (Job Design) dengan budaya (Culture).
Didalam penulisan artikel ini sebenarnya adalah untuk mencari sebuah gagasan dari suatu model karakteristik pekerjaan yang diikuti dengan pendekatan dari desain pekerjaan yang dipengaruhi oleh budaya nasional (National Culture) dimana hal tersebut sudah tertanam pada perusahaan atau organisasi. Pada dasarnya dan dari beberapa contoh nyata yang ada di Negara Indonesia sebenarnya  dapat dilihat bahwa ada pengaruh terhadap karakteristik pekerjaan yang disebabkan oleh adanya factor budaya.
Dari pengamatan dan hasil dari eksplorasi literatur, dapat ditarik sebuah benang merah bahwa desain pekerjaan sebenarnya berhubungan dan dipengaruhi oleh budaya, tetapi didalam konteks Negara Indonesia penulis melihat bahwa factor budaya berpengaruh sebagai moderator atau penengah didalam melakukan desain pekerjaan. Power Distance, Individualisme, kolektivisme dan Uncetainty Avoidance merupakan dimensi yang memiliki efek yang kuat terhadap penerapan pendekatan desain pekerjaan. Power Distance sebenarnya berkaitan dengan otonomi pekerjaan dalam suatu perusahaan atau organisasi. di sisi lain, otonomi dan pemberdayaan juga kongruen dengan nilai-nilai individualistis, menekankan kebebasan memilih dan memberikan kesempatan untuk mempengaruhi dan merupakan atribut dari hasil perilaku untuk individu.
Banyak pendapat dari beberapa ahli dan beberapa penelitian yang mengungkapkan bahwa otonomi kerja dapat mengakibatkan efek yang berbeda pada kepuasan dan kinerja di setiap kebudayaan. Tingkat individualisme dan kolektivisme juga memiliki korelasi yang kuat dalam otonomi dan umpan balik.
Beberapa peneliti berpendapat bahwa otonomi adalah kebutuhan psikologis yang universal dan lintas budaya yang dapat dibedakan dari individualisme dan collectivism. Otonomi melibatkan pilihan, sedangkan individualisme dan collectivism melibatkan suatu pemisahan dari orang lain (Chirkov, Ryan, Kim, & 2003). Peneliti lain juga berpendapat bahwa, otonomi masih lebih penting dalam individualistis daripada budaya kolektif (Chua & Iyengar, 2006). Budaya dengan tingkat kolektivisme tinggi cenderung lebih terbuka terhadap umpan balik dan menerima budaya dari tingkat individualisme yang tinggi.
Uncertainty Avoidance merupakan dimensi lain dari budaya yang berkorelasi dengan umpan balik. Di Asia, seperti Indonesia dan Jepang, mendapatkan feedback dari manager dikatakan sangat langka, sedangkan dinegara barat feedback sering dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting dan berharga untuk meningkatkan kinerja karyawan. Berdasarkan dari penjelasan di atas, dapat dilihat bahwa budaya itu sendiri menciptakan suatu pendekatan desain pekerjaan (Job Desaign )yang sesuai dengan nilai-nilai mereka sebagai contoh Amerika menciptakan Job Enrichment, di Eropa dikenal dengan Job Desaign Socio Technological Design, dan Asia terutama Indonesia lebih dengan Quality Circle.











BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Desain pekerjaan (Job Design) merupakan sebuah topic yang hangat ketika hal tersebut dibahas di Negara Indonesia dimana jika dikaitkan dengan National Culture. Perusahaan  ataupun organisasi telah menggunakan pendekatan yang berbeda didalam desain pekerjaan (Job Design), tergantung pada bagaimana pekerja menyelesaikan pekerjaan mereka, pentingnya tugas mereka, bagaimana ini mempengaruhi kemampuan untuk melakukan pekerjaan mereka, bagaimana menginformasikan mereka tentang kemajuan dan berapa banyak kebebasan dan kontrol yang diberikan terhadap mereka untuk melakukan pekerjaan mereka (otonomi), hal itu semua sebenarnya sudah terangku didalam budaya disetiap perusahaan atau organisasi di suatu Negara tertentu baik Asia, Eropa, Amerika ataupun Afrika.
Budaya memiliki pengaruh didalam menentukan pendekatan terhadap desain pekerjaan (Job Desaign) dalam hal nilai-nilai umum dan keyakinan. Dan dengan dukungan dari Hofstede, hal tersebut dapat  menghasilkan karakteristik suatu pekerjaan untuk budaya tertentu. Bila pendekatan dan karakteristik yang ditentukan jelas, maka akan menghasilkan semacam cetak biru dari sebuah pekerjaan tertentu didalam budaya tertentu. desain pekerjaan memang ditentukan oleh budaya. Itu tidak hanya memberikan pemahaman yang lebih baik dari apa yang disukai dalam budaya tertentu, tetapi dengan dukungan dari Hofstede, hal tersebut bisa membuat garis besar yang dapat digunakan sebagai landasan atau kerangka dasar untuk menciptakan pekerjaan tertentu.
3.2.Saran
Banyaknya teori dan pendekatan dari desain pekerjaan (Job Design) kadang-kadang membingungkan. Selain itu, nilai-nilai dari dimensi suatu budaya sangat bervariasi. Dalam globalisasi saat ini, lingkungan telah berubah secara signifikan, siapapun individu yang ingin menerapkan salah satu pendekatan terhadap desain pekerjaan, disarankan ketika merancang suatu pekerjaan, dan didalam mengambil suatu budaya harus sangat diperhitungkan dan tidak berfikir secara global karena penggunaan budaya dan desain pekerjaan (Job Desaign) dapat menentukan karakteristik dari pekerjaan yang dapat secara intuitif diterima oleh masyarakat.














DAFTAR PUSTAKA
Chirkov, V., Ryan, R. M., Kim, Y., & Kaplan, U. (2003). Differentiating autonomy from individualism and independence: A self-determination theory perspective on internalization of cultural orientations and wellbeing. Journal of Personality & Social Psychology, 84, 97–109.
Chua, R. Y.-J.,&Iyengar, S. S. (2006). Empowerment through choice? A critical analysis of the effects of choice inorganizations. In B. Staw, & R. M. Kramer (Eds.), Research in organizational behavior (Vol. 27, pp. 41–79).Greenwich, CT: Elsevier.
Erez, M. (2010). (Commentary) culture and job design. Journal of Organization Behavior, 31, 389-400.
Grant, A. M., Fried, Y., & **Juillerat, T. 2010. Work matters: Job design in classic and contemporary perspectives. Forthcoming in S. Zedeck (Ed.), APA handbook of industrial and organizational psychology. Washington, DC: American Psychological Association.,
Hall, E. T., & Hall, M. R. (1987). Understanding cultural differences. Yarmouth, ME: Intercultural Press.
Hofstede, G. (2001). Culture’s sequences: Comparing values, institutions, and organizations across nations. Thousand Oaks, CA: Sage.
Luna, D. dan Gupta, S.F. (2001). An integrative framework for cross-cultural consumer behavior. International Marketing Review, Vol. 18, No. 1, pp. 45-69.
Parker, S. K., & Ohly, S. (2008). Designing motivating jobs. In R. Kanfer, G. Chen, & R. Pritchard (Eds.), Work motivation: Past, present, and future (pp. 233–284).
Wrzesniewski, A., & Dutton, J. E. (2001). Crafting a job: Revisioning employees as active crafters of their work. Academy of Management Review, 26, 179-201.

Kenapa Pendidikan di Negara Asia Timur dan Singapura Lebih Maju ? Ini Jawaban Jujur AI

Pendidikan: Kebutuhan Primer untuk Masa Depan yang Lebih Baik Pendidikan memiliki banyak manfaat yang sangat mendasar dalam kehidupan manusi...